Satu Abad NU : Lebih dari Sekadar Angka, Inilah 5 Hal Menarik dari Lautan Manusia di Malang


Stadion Gajayana, Malang, pada akhir pekan pertama Februari 2026, bukan sekadar menjadi titik kumpul massa, melainkan sebuah epentrum energi spiritual yang luar biasa. Di bawah langit Malang yang muram oleh hujan, ribuan jemaah Nahdlatul Ulama (NU) tetap berdiri kokoh, melantunkan selawat yang memecah keheningan kota. Suasana ini merupakan puncak dari perjalanan panjang selama sebulan penuh yang dimulai sejak kick-off di Universitas Islam Malang (Unisma) pada 7 Januari lalu—sebuah perjalanan historis menandai berakhirnya abad pertama dan menyongsong fajar abad kedua bagi organisasi ini.

Peringatan "Satu Abad Nahdlatul Ulama" ini jauh dari sekadar seremoni formal. Ia adalah manifestasi kekuatan sosial keagamaan yang masif, sebuah refleksi tentang bagaimana tradisi kuno mampu bersenyawa dengan tantangan modernitas. Dari lautan manusia yang memadati sudut-sudut kota, terdapat lima dimensi krusial yang menggambarkan visi besar NU di abad keduanya.
1. Kekuatan Logistik: Sebuah "Mukjizat Desentralisasi"
Mobilisasi massa dalam skala ini sering kali dipandang sebagai angka statistik belaka, namun bagi seorang analis, ini adalah bukti dari kesehatan organik sebuah organisasi. Hingga dua hari sebelum puncak acara (H-2), tercatat sebanyak 104.541 jemaah telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Angka ini terdiri dari 77.541 kader Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur dan 27.000 warga Muslimat NU.
Di balik angka-angka tersebut, terdapat mesin logistik yang bekerja dengan presisi tinggi tanpa bergantung sepenuhnya pada komando pusat yang kaku. Sebanyak 1.183 bus, 6.465 mobil, dan 5.413 sepeda motor bergerak secara mandiri dari berbagai pelosok daerah. Dengan pembagian 9 zona yang masing-masing dipimpin oleh seorang person in charge (PIC) dari PWNU Jatim, manajemen kerumunan ini menunjukkan bagaimana struktur NU di tingkat lokal memiliki kemandirian luar biasa. Ini bukan sekadar mobilisasi; ini adalah sebuah "mukjizat desentralisasi" di mana puluhan ribu orang mampu bergerak secara teratur menuju satu titik fokus.
2. Stadion Gajayana dan Hibriditas Ruang Spiritual
Ketika aspirasi spiritual meluap melebihi batas fisik infrastruktur, teknologi hadir sebagai jembatan. Secara konstruksi, Stadion Gajayana hanya mampu menampung sekitar 35.000 orang di area tribun. Namun, antusiasme jemaah yang membengkak hingga tiga kali lipat kapasitas tersebut memaksa panitia untuk berpikir melampaui tembok stadion.
Solusinya adalah menciptakan ekosistem digital-fisik yang inklusif. Pemasangan videotron dalam radius 3 kilometer dari pusat stadion memungkinkan mereka yang berada di luar arena tetap merasakan getaran khidmat yang sama. Ini adalah bentuk adaptasi tradisi spiritual dalam ruang perkotaan modern, memastikan bahwa tak ada jemaah yang terpinggirkan dari momen historis ini.
"Kapasitas Stadion Gajayana sesuai konstruksi tribun hanya sekitar 35.000 orang, sehingga jamaah lainnya akan berada di luar stadion. Untuk itu, videotron diperbanyak di area luar stadion hingga radius sekitar 3 kilometer," ungkap Ketua Panitia Harlah Satu Abad NU PWNU Jatim, Masykuri Bakri.
3. Sinergi Ulama dan Umaro: Legitimasi di Tengah Badai
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam acara ini membawa bobot geopolitik dan sosial yang signifikan. Terbang langsung dari Jakarta usai menghadiri pengukuhan pengurus MUI di Masjid Istiqlal, Presiden hadir didampingi tokoh kunci seperti Ketua MPR Ahmad Muzani, Mensesneg Prasetyo Hadi, hingga Menteri Luar Negeri Sugiono. Kehadiran negara di tengah jemaah NU bukan sekadar simbolisme protokoler, melainkan penegasan atas posisi NU sebagai jangkar stabilitas nasional.
Dalam konteks di mana Presiden secara terbuka menyuarakan perang terhadap korupsi dan "garong-garong" yang merugikan rakyat, sinergi dengan NU memberikan legitimasi moral bagi pemerintah. NU menjadi pilar ketenangan yang menjaga suhu sosial tetap sejuk di tengah tantangan global dan domestik yang memanas.
"Kalau ulama dan umara bersatu, Insha Allah bangsa kita akan menjadi bangsa yang besar, bangsa yang makmur. Karena syarat bangsa yang berhasil sepanjang sejarah peradaban manusia adalah perdamaian. Perdamaian hanya bisa dicapai dengan bersatunya ulama dengan umaro," tegas Presiden Prabowo Subianto.
4. Visi Ekonomi: Modernisasi Tanpa Sekularisasi
Memasuki abad kedua, NU secara eksplisit menunjukkan arah baru melalui narasi ekonomi yang lebih tajam. Sebelum puncak acara di Malang, serangkaian agenda strategis telah digelar di Kampung Coklat, Kabupaten Blitar, pada 5-7 Februari. Melalui inisiatif seperti Pameran NUConomic dan GenZINU Bootcamp, NU sedang melakukan transisi dari organisasi berbasis ritual murni menuju entitas yang memprioritaskan kedaulatan ekonomi warga.
Fokus pada tiga pilar—UMKM, filantropi, dan industri pertanian—adalah strategi "modernisasi tanpa sekularisasi". NU berupaya membekali Generasi Z Nahdliyin dengan literasi digital dan kemandirian ekonomi tanpa mencabut akar religiusitas mereka. Ini adalah pesan kuat bahwa di abad kedua, NU tidak hanya ingin menjaga doa-doa jemaahnya tetap melangit, tetapi juga memastikan kesejahteraan mereka tetap membumi.
5. Militansi dan "Barakah" sebagai Mata Uang Spiritual
Hal yang paling sulit diukur secara kuantitatif namun paling terasa adalah militansi jemaah. Sejak Sabtu sore, sudut-sudut stadion telah dipadati oleh warga yang datang dengan persiapan seadanya. Tidur beralaskan plastik atau tikar di tengah kelembapan udara pasca-hujan adalah pemandangan yang lazim.
Bagi pengamat luar, ini mungkin terlihat sebagai ketidaknyamanan fisik. Namun, dalam kacamata sosiokultural NU, ini adalah bentuk "khidmah" (pengabdian). Di sini, kenyamanan fisik dikonversi menjadi "Barakah" (keberkahan)—sebuah mata uang spiritual yang nilainya jauh melampaui fasilitas materi. Keteguhan mereka bertahan di tengah guyuran hujan demi sebuah doa bersama adalah inti dari kekuatan organisasi ini: sebuah loyalitas yang tak terbeli oleh apa pun.
Menatap Abad Kedua
Mujahadah Kubro di Malang adalah pernyataan sikap bahwa Nahdlatul Ulama siap menjadi pemimpin perubahan. Dengan penggabungan antara kekuatan logistik yang solid, adaptasi teknologi, sinergi politik yang strategis, dan visi ekonomi yang futuristik, NU membuktikan diri sebagai organisasi tradisional yang paling siap menghadapi disrupsi.
Dengan kekuatan mobilisasi dan visi ekonomi baru ini, peran seperti apa yang akan dimainkan NU dalam menjaga stabilitas dan kemajuan Indonesia di abad keduanya? Satu hal yang pasti, lautan manusia di Malang telah memberikan sinyal bahwa NU akan tetap menjadi kompas moral sekaligus motor penggerak bagi kemandirian bangsa di masa depan.

ISNU BOJONEGORO

ISNU adalah Sebagai wadah sarjana NU, keanggotaan ISNU meliputi seluruh sarjana NU atau orang yang dianggap berjasa kepada NU. Kepengurusan ISNU berada di tingkat Pusat, Wilayah, Cabang/ Cabang Istimewa, dan Wakil Cabang.

Lebih baru Lebih lama