Menelusuri Akar Pemikiran Ekonomi Bangsa: Sintesa Paradigma Sumitro, Hatta, dan Sjafruddin dalam Bingkai Maslahah

 


Diskusi mengenai arah ekonomi Indonesia sering kali terjebak dalam dikotomi pertumbuhan versus pemerataan. Namun, jika kita menelaah kembali sejarah pemikiran para begawan ekonomi bangsa seperti Sumitro Djojohadikusumo, Mohammad Hatta, dan Sjafruddin Prawiranegara, kita akan menemukan kekayaan intelektual yang melampaui angka statistik. Artikel ini akan membedah pemikiran tersebut melalui konsep maslahat—sebuah upaya mencari manfaat publik yang paling luas—tanpa menyudutkan salah satu pihak, melainkan menjadikannya sebagai pola keilmuan yang utuh.

Paradigma Pembangunan: Antara Pertumbuhan dan Pemerataan

Salah satu titik sentral dalam sejarah ekonomi Indonesia adalah perdebatan mengenai metode pembangunan yang paling efektif. Sumitro Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai begawan ekonomi Indonesia, membawa visi industrialisasi sebagai "jalan pintas" untuk memperkuat ekonomi nasional. Sumitro sangat pesimis jika Indonesia hanya bergantung pada sektor pertanian yang produktivitasnya rendah dan lahannya sempit. Baginya, negara harus hadir melakukan intervensi untuk menciptakan stabilitas dan memproteksi pengusaha pribumi melalui industrialisasi agar tidak kalah bersaing dengan kekuatan asing.

Di sisi lain, Mohammad Hatta menekankan konsep koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan. Hatta menginginkan kemajuan bangsa dicapai melalui industrialisasi yang dibarengi dengan semangat kerja sama, di mana distribusi kekayaan berjalan beriringan dengan pertumbuhan. Pola pemikiran ini bertemu dalam satu garis pragmatisme pasca-kemerdekaan: bagaimana menjalankan pemerintahan yang berdaulat secara ekonomi tanpa terjebak dalam retorika revolusi yang belum selesai.

Dialektika Kebijakan: Pragmatisme Sumitro dan Sjafruddin

Sisi menarik lainnya muncul dari perbedaan pandangan antara Sumitro dan Sjafruddin Prawiranegara. Sjafruddin, yang pernah menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia, memiliki pendekatan yang lebih hati-hati terhadap anggaran. Ia cenderung memilih pengembangan sektor pertanian di luar Jawa dan menyerahkan industri kepada mekanisme pasar atau modal asing, karena merasa negara belum memiliki modal yang cukup untuk melakukan nasionalisasi aset. Bagi Sjafruddin, nasionalisasi tanpa penambahan produksi hanya memindahkan hak milik tanpa benar-benar meningkatkan derajat hidup rakyat.

Sumitro menolak logika pasar bebas ini dalam konteks pasca-penjajahan. Ia meluncurkan "Program Benteng" untuk memberikan lisensi khusus bagi pedagang pribumi agar mereka bisa tumbuh di tengah dominasi asing. Meski dalam perjalanannya kebijakan ini dianggap "salah kedaden" (salah sasaran) karena munculnya praktik izin yang diperjualbelikan kepada pihak non-pribumi, namun secara teoretis, langkah ini diambil untuk menciptakan maslahat berupa kemandirian ekonomi bagi masyarakat yang baru saja merdeka.

"Mafia Berkeley" dan Pergeseran ke Ekonomi Modern

Sumitro juga memiliki peran besar dalam pendidikan ekonomi di Indonesia melalui pembentukan Jakarta Economic School yang kini menjadi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Meski awalnya berkeinginan mengirim murid-muridnya ke Inggris, keterbatasan beasiswa membawa kader-kader ekonomi Indonesia belajar di Universitas Berkeley, Amerika Serikat. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai "Mafia Berkeley" yang mendominasi kebijakan ekonomi era Orde Baru dengan fokus pada pertumbuhan ekonomi.

Namun, penting untuk dicatat bahwa terdapat perbedaan fundamental antara pemikiran asli Sumitro dengan praktik kelompok Berkeley. Sementara Bappenas di bawah kepemimpinan Widjojo Nitisastro sangat terfokus pada perencanaan pertumbuhan makro, Sumitro tetap membawa nilai-nilai keberpihakan pada struktur ekonomi mikro dan industrialisasi nasional. Ketimpangan struktural yang ditinggalkan kolonialisme dipandang Sumitro sebagai hambatan yang hanya bisa ditembus dengan intervensi negara yang hati-hati namun tegas.

Refleksi Masa Kini: Konsep Maslahah sebagai Solusi

Jika kita menarik benang merah dari perdebatan sejarah ini, masa depan ekonomi Indonesia mungkin terletak pada penggabungan ketiga pola pemikiran tersebut. Konsep maslahah menuntut kita untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan produk (PDB), tetapi juga pertumbuhan manusia dan distribusinya. Sebagaimana direfleksikan dalam diskusi, integrasi antara pemikiran klasik Sjafruddin (kekuatan agraris), koperasi Hatta (saling menopang), dan industrialisasi modern Sumitro dapat menciptakan sistem di mana perbankan kapitalistik mungkin tidak lagi dominan karena rakyat telah berdaya secara mandiri.

Kita belajar bahwa kebijakan ekonomi tidak boleh sekadar menjadi instrumen politik, melainkan harus menjadi ladang "jariyah" intelektual yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat luas. Harapannya, generasi masa depan tidak lagi mengalami kebijakan yang "salah kedaden", melainkan kebijakan yang matang secara keilmuan dan tulus dalam memberikan manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. 

ISNU BOJONEGORO

ISNU adalah Sebagai wadah sarjana NU, keanggotaan ISNU meliputi seluruh sarjana NU atau orang yang dianggap berjasa kepada NU. Kepengurusan ISNU berada di tingkat Pusat, Wilayah, Cabang/ Cabang Istimewa, dan Wakil Cabang.

Lebih baru Lebih lama